Matras yoga yang kamu pakai setiap sesi latihan mungkin terlihat biasa saja dari luar. Tidak ada noda mencolok, tidak ada kotoran yang langsung terlihat. Tapi justru di situlah masalahnya. Ancaman terbesar dari matras yoga yang jarang dibersihkan tidak kasat mata, dan dampaknya baru terasa setelah beberapa waktu.
Daftar Isi
ToggleAda tiga jenis bahaya utama yang perlu kamu ketahui.
1. Jamur dan Infeksi Kulit: Dari Kurap Hingga Athlete’s Foot
Setiap kali kamu berlatih, keringat meresap ke permukaan matras dan menciptakan kondisi yang lembab. Kondisi inilah yang paling disukai jamur untuk tumbuh dan berkembang biak.
Jamur seperti Trichophyton adalah salah satu yang paling umum ditemukan di matras yoga. Jenis jamur ini bertanggung jawab atas kurap, athlete’s foot, dan jock itch. Yang perlu kamu waspadai, jamur ini tidak hanya hidup di permukaan matras. Pada material matras berjenis open-cell atau berpori tinggi, jamur bisa menembus lapisan dalam dan bertahan jauh lebih lama dibanding yang kamu bayangkan.
Gejalanya di kulit bisa muncul sebagai ruam merah, rasa gatal yang persisten, atau kulit yang terasa bersisik di area yang sering kontak langsung dengan matras, seperti telapak tangan, lutut, dan punggung atas. Banyak orang tidak langsung menyadari bahwa sumber masalahnya adalah matras yang mereka gunakan setiap hari.
2. Bakteri Staphylococcus dan Risiko Infeksi yang Sering Diabaikan
Selain jamur, bakteri adalah penghuni tak diundang lainnya di matras yoga kamu. Salah satu yang paling perlu diwaspadai adalah Staphylococcus aureus, atau yang sering disebut staph.
Berdasarkan studi laboratorium yang dilakukan oleh Wipex terhadap matras-matras yang sering digunakan, rata-rata ditemukan lebih dari 3 juta Colony-Forming Units (CFU) per inci persegi pada matras yang tidak dibersihkan secara rutin. Angka ini termasuk koloni Staphylococcus yang berpotensi menyebabkan infeksi kulit serius seperti selulitis, impetigo, hingga folikulitis.
Bakteri staph berkembang pesat di lingkungan yang hangat dan lembab, dan matras yoga yang digulung dalam kondisi masih basah keringat adalah habitat sempurna bagi mereka. Yang membuat ini lebih mengkhawatirkan, bakteri ini bisa bertahan di permukaan matras selama beberapa hari hingga berminggu-minggu tanpa penanganan yang tepat.
Infeksi dari bakteri ini biasanya dimulai dari luka kecil atau abrasi mikro di kulit yang tidak kamu sadari, kemudian bakteri masuk dan memicu reaksi di bawah kulit. Itulah kenapa yogis yang rutin latihan intensitas tinggi, di mana gesekan kulit dengan matras lebih besar, berisiko lebih tinggi mengalami ini.
3. Tungau, Virus, dan Alergen Tersembunyi di Sela Permukaan Matras
Di luar jamur dan bakteri, ada ancaman lain yang jarang disadari. Sel kulit mati yang terlepas saat latihan menumpuk di sela-sela tekstur matras dan menjadi sumber makanan bagi tungau debu. Keberadaan tungau ini bisa memicu reaksi alergi, terutama bagi kamu yang memiliki kulit sensitif atau riwayat asma.
Selain tungau, virus juga bisa bertahan di permukaan matras lebih lama dari yang kamu kira. Beberapa jenis virus penyebab flu bahkan diketahui mampu bertahan di permukaan benda mati selama beberapa minggu. Jika kamu menyentuh matras lalu secara tidak sadar menyentuh wajah, mata, atau hidung, jalur penularannya menjadi sangat singkat.
Kondisi ini diperparah oleh iklim Jakarta yang lembab sepanjang tahun. Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pertumbuhan mikroorganisme di matras, bahkan pada matras yang sudah diangin-anginkan sekalipun.
Matras yoga yang bersih bukan sekadar soal penampilan. Ini soal seberapa aman permukaan yang kamu sentuhkan langsung ke kulitmu setiap latihan. Kalau kamu merasa matras kamu sudah melewati batas yang bisa ditangani dengan lap biasa di rumah, Dpurple Laundry siap membantu. Layanan laundry matras yoga Dpurple dirancang untuk membersihkan secara menyeluruh, termasuk ke lapisan dalam yang sering jadi tempat persembunyian bakteri dan jamur.
Cek layanan lengkapnya di sini: Laundry Matras Yoga Dpurple